Toleransi Dan Perpecahan


Devide et Impera, Politik pecah belah atau politik adu domba adalah kombinasi strategi politik, militer, dan ekonomi yang bertujuan mendapatkan dan menjaga kekuasaan dengan cara memecah kelompok besar menjadi kelompok-kelompok kecil yang lebih mudah ditaklukan. Dalam konteks lain, politik pecah belah juga berarti mencegah kelompok-kelompok kecil untuk bersatu menjadi sebuah kelompok besar yang lebih kuat (sumber : wikipedia)

bersatu-melawan-devidePolitik devide et impera dipakai Belanda di zaman penjajahan untuk memecah persatuan. Belanda mengangkat Raja-raja tandingan sehingga akan lahir dua kepemimpinan disuatu daerah, dimana salah satunya mendapatkan dukungan politik dari Belanda.

Politik ini diiringi dengan bumbu-bumbu permusuhan dalam keluarga kerajaan. Menumbuhkan rasa saling tidak percaya antar saudara. Teknik yang digunakan Belanda dalam memecah belah adalah agitasi, propaganda, desas – desus dan bahkan fitnah.

Dahulu dizaman penjajahan, musuhnya jelas..Penjajah Belanda. Dengan musuh yang jelas tersebut, masyarakat masih tetap dapat dipecah belah. Keruntuhan kerajaan-kerajaan besar  nusantara adalah salah satu akibat dari politik ini.

Saat ini, penjajahan fisik oleh bangsa lain tidak ada lagi di negeri ini. Namun sistem politik Devide et Impera ini begitu jelas terlihat di dalam masyarakat. Diperangkan oleh orang-orang menyebut dirinya sebangsa dan setanah air.

Beberapa bulan terakhir ini, perpecahan itu semakin terasa. Saling hujat, propaganda, desas-desus dan fitnah bertebaran. Demi mencapai tujuan kekuasaan, segala maca cara dihalalkan

Isu toleransi menjadi menjadi pembahasan paling empuk untuk dibahas,  isu kebhinekaan menjadi bumbu. Umat islam berada dipusaran gelombang badai perpecahan. Ketika umat islam sebagai umat mayoritas menyuarakan pendapatnya, isu tidak toleran semakin berkibar.

Hadirnya perpecahan itu dapat dilihat dari sesama muslim saling serang, saling fitnah, saling merendahkan. konsep unfriend disosial media menjadi solusi perbedaan pendapat. Konsep silaturahmi menjadi tabu, seakan-akan setiap perkumpulan tujuannya negatif.

Ulama-Sebagai-Pewaris-Para-Nabi.jpgYang paling terlihat dari perpecahan ini adalah fitnah terhadap ulama, merendahkan ulama. Semua orang merasa paling benar, merasa paling tau, sehingga ulama sebagai pewaris para Nabi dihinakan.

Benarkah umat islam tidak toleran??

Semut Ibrahim

Mari melihat sejarah…

Pada masa perjuangan kemerdekaan, tanpa mengecilkan peran dari para pejuang kemerdekaan lain, Umat islam menjadi pilar perjuangan melawan penjajah. Begitu banyak kisah perjuangan yang dipimpin ulama.

Pada masa kemerdekaan, kisah heroik perjuangan tidak bisa lepas dari perjuangan umat islam

Potongan orasi Bung Tomo sebelum pendaratan sekutu mendarat di Surabaya..

”Ribuan rakyat yang kelaparan, telanjang, dan dihina oleh kolonialis, akan menjalankan revolusi ini. Kita kaum ekstremis, kita yang memberontak dengan penuh semangat revolusi, bersama dengan rakyat Indonesia, yang pernah ditindas oleh penjajahan, lebih senang melihat Indonesia banjir darah dan tenggelam ke dasar samudera daripada dijajah sekali lagi!

Tuhan akan melindungi kita!

Merdeka!

Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!”

Dan….

Demi toleransi Moh Hatta mengusulkan hilangnya sebagian isi dari teks Sila Pertama Pancasila yang telah diusulkan melalui Piagam Jakarta. Sila Pertama : Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa.

Saat ini….

Dibandingkan dengan negara lain yang memiliki penduduk mayoritas dan minoritas. Umat islam di Indonesia adalah umat mayoritas yang paling toleran. Negara yang menyebut dirinya negara demokrasi terbesar, Amerika Serikat, saat ini dapat kita lihat perlakuannya terhadap umat islam sebagai minoritas. Larangan beribadah, larangan memakai hijab diberlakukan diberbagai negara “DEMOKRASI” di Eropa. Pembahasannya ini tidak usah berlanjut bagaimana keadaan penduduk minoritas di Miyanmar.

Ketika umat islam menyuarakan pendapatnya, membela agamanya, bukan berarti Umat Islam tidak memiliki Nasionalisme. Umat Islam Indonesia adalah pilar demokrasi negeri ini. Umat islam akan senantiasa menjalankan perintah Allah SWT dan Rasulnya untuk menjaga kaum minoritas.

Disisi lain hendaknya yang minoritas menahan diri dan menghormati. Bukan malah menjadi pemicu konflik dan perpecahan dengan membahas kepercayaan orang lain dan bahkan menistakan kepercayaan mayoritas.

Iklan

4 pemikiran pada “Toleransi Dan Perpecahan

  1. Ping balik: Semut Ibrahim – auliamaharani

  2. Ping balik: Toleransi Muslim Indonesia – auliamaharani

  3. Ping balik: Ketika Pemilu Merusak Nilai Masyarakat – auliamaharani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s