Long Time & Distance Relationship


BAPAK TUA YANG MENGESANKAN

Ini tentang seorang yang menjalani LTDR lebih dari separuh hidupnya. “Meninggalkan” keluarganya demi manjalankan tugas. Tapi, tiada satu hari libur  selama 25 tahun yang terlewatkan untuk pulang, apapun yang terjadi.

Menurut ceritanya..
Ia pertama kali berpisah dengan keluarga karena bertugas saat anak pertamanya masih SD. Saat pensiun, 2 dari 3 anaknya telah berkeluarga dan masing-masing menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi. Anak bungsunya sedang menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi di daerah Bandung

Saya ingin menulis ini tepat setelah menulis Aku dan Dia, tapi sempatnya baru sekarang.
Awal tahun 2009, saya menempati tempat tugas baru.

“my next UP.9 my next journey”.

Saya ditempatkan di posisi yang mayoritas teman-teman saya menolak atau paling tidak berusaha untuk tidak ditempatkan diposisi itu. Salah satu pekerjaannya adalah memastikan arsip dokumen tertata rapi didalam karung untuk penyimpanan.

Di penempatan yang baru, saya bertemu seorang bapak yang usianya sekitar 50 tahun saat itu. Seorang bapak yang sangat sederhana dalam pandangan saya.

Yang membuat saya kagum pada bapak ini adalah, cara beliau bekerja. kemampuannya menggunakan komputer bisa disebut pas-pasan. Tapi, hasil pekerjaannya rapi dan pejabat-pejabat (sudah pasti pangkatnya lebih tinggi) sangat menghormatinya.

Saat pensiun 5 tahun kemudian, saya bersama beberapa teman sejawat yang mengenalnya, mengantarnya sampai ke rumah, menggunakan kereta api yang selama ini menjadi moda transportasinya bertemu keluarga. Selama 25 Ia menjadi pegawai PJKA.

Pulang Jum’at Kembali Ahad

 img_0473

MONDOK DI KANTOR

Istilah “Doktor” mungkin hal yang sudah biasa di tempat sy bekerja, beberapa teman sejawat lebih memilih untuk “mondok dikantor” jika rumah dan kantor tidak mungkin ditempuh pulang-pergi setiap hari. Selain pertimbangan lebih praktis juga dapat menghemat pengeluaran.

Suatu malam, karena pekerjaan saya kembali ke kantor, beliau tidur dibawah kolong meja dengan alas seadanya. Jika melihat caranya melalui malam dikantor, saya tidak bisa membayangkan bagaimana perjuangannya menjalani hidup.

Selama 5 tahun sebagai rekan kerja, satu hal yang paling berkesan terjadi di hari jum’at, Setelah shalat jum’at, saya memintanya untuk tidak lagi bekerja, karena kalau bekerja pasti ada yang salah. Raganya ada diruangan bersama saya, tapi pikirannya sudah di rumah.

Saya dapat menceritakan hal ini secara detail karena kejadianya sama, berulang setiap minggu. Mungkin selama 25 tahun seperti itu

Sekitar jam 2 siang, seluruh pakaiannya sudah tertata rapi di dalam tas ransel kecil yang cukup untuk pakaian seminggu. Setelah itu Ia akan mondar-mandir menunggu jam 5 sore, waktu pulang kantor. Jika duduk dia akan gelisah, kemudian bangkit lagi menengok jam.

Salah seorang teman pernah berucap, Bapak ini seakan-akan baru pertama kali ini pulang kampung.

Ketika jam 5 sore, dia akan berada diantrian terdepan mesin absensi. Proses administrasi yang ditunggunya dengan gelisah dan berakhirlah penantiannya minggu itu untuk diulang kembali minggu berikutnya

Iklan

Satu pemikiran pada “Long Time & Distance Relationship

  1. Ping balik: Sayap-sayapku | auliamaharani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s